ENAM KEKELIRUAN YANG SERING DIUCAPKAN DI SEKOLAH


CILEGON - Dibanding ruang pendidikan lain, sekolah formal adalah tempat pertama manusia belajar berbagai hal. Namun, tidak sedikit kata atau ungkapan yang digunakan di lingkungan sekolah yang ternyata keliru atau tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Berikut di antaranya.

1. Tunjuk Tangan
Ungkapan ini biasanya diujarkan guru saat menanyai siswanya. “yang bisa tunjuk tangan!” Tetapi, jangan salahkan siswa jika ada yang nekat menunjuk tangannya sendiri.
Menurut KBBI edisi terbaru, kata “tunjuk” bermakna jari telunjuk. Namun, dapat juga sebagai ragam percakapan yang  merujuk ke kata “menunjuk”. “Menunjuk” sendiri memiliki makna (1) mengacungkan jari telunjuk ke objek, (2) memberi tahu dengan mengarahkan telunjuk, (3) mengacungkan jari telunjuk ke atas, (4) menentukan dengan jari telunjuk, dan/atau (5) menyatakan atau mengingatkan .
Nah, jika tujuannya untuk membuat siswa mengacukngkan telunjuk, maka lebih baik dengan kata “mengacung” atau frasa “acungkan tangan” karena ketika kata “tunjuk” diikuti kata “tangan”, maka perintahnya adalah menunjuk tangan.

2. Rapot dan Lapor
Hayo! Yang benar “buku rapot” apa “buku lapor”? ternyata yang baku adalah “rapor”, loh. Coba cek di KBBI.

3. Mencontek
Siapa nih yang sering nyontek waktu ujian? Eh, yang benar itu “menyontek” apa “mencontek”, yah? Memang, kata dengan huruf awalan ‘c’ akan jadi bunyi /ny/ dalam ragam percakapan. Makanya, banyak yang salah kaprah menggunakan kata “contek”. Namun, kata yang tepat untuk mereferensikan catatan yang dikutip untuk jawaban/soal adalah “sontekan”. Kata kerjanya jadi “menyontek”, bukan “mencontek”.

4. Legalisir
Dalam sistem gramatika bahasa Indonesia, tidak dikenal akhiran –ir. Kalau dicari “legalisir” di kamus, pasti referensinya merujuk ke “legalisasi” yang artinya pengesahan dokumen atau benda.

5. Infocus, Stabilo, Toa, dll.
Nama-nama yang disebutkan di atas bukanlah nama benda melainkan merek produk. Fenomena ini dikenal dengan sebutan metonimia yakni majas yang menggunakan merek sebagai pengganti nama jenis benda.
Infocus adalah salah satu merek dari LCD Proyektor, Stabilo merek spidol penanda (Highlighter), dan Toa adalah merek produk pengeras suara. Sama halnya dengan penyebutan Aqua untuk air mineral, Sanyo untuk pompa air, Levis untuk celana jeans, dan Odol untuk pasta gigi, dan sebagainya.

6. Kosong
Hampir sebagaian orang Indonesia mengujarkan “kosong” untuk merujuk angka nol . Padahal, kosong dan nol tidak bermakna sama. Kosong adalah
 keadaan tidak berisi, sedangkan nol adalah bilangan sebelum satu dan dilambangkan dengan “0”

Sebagai pelajar yang baik, sudah wajib dong menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebab, kalau bukan kita yang menjadi penuturnya, siapa lagi?

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama