![]() |
| Gambar: www.mojok.com |
CILEGON - Tentu belum lupa dengan kejadian penggerebegan warteg Ibu Saeni pada Ramadhan
2016 lalu. Paska penggerebegan itu media ramai berbicara tentang toleransi
agama saat ibadah puasa dilangsungkan. Ujung dari kisruh itu adalah pembatalan Perda
Syariah.
Setahun sebelumnya, pada Idul Fitri tahun 2015/1436 H, media nasional
juga ramai – ramai membicarakan pembakaran masjid di Tolikara, Papua. Dalam
sekejap pembakaran itu memantik isu intoleransi di daerah Indonesia Timur.
Kedua gambaran kasus ini membawa kita pada pertanyaan penting, ada apa dengan
toleransi keagamaan kita? Maka diantara kedua kejadian itu (Tolikara dan Gerebeg
Warteg).
“ Melawat Ke Timur : Menyusuri Semenanjung Raja - Raja” hadir. Buku
ini adalah salah satu rekam jejak kehidupan beragama dan pola toleransi yang
terbangun dalam kehidupan masyarakat Indonesia Timur. Kardono Setyorakhmadi
yang merupakan wartawan khusus konflik mencoba menyajikannya untuk kita.
Sumpah
Darah Kuno
Perjalanan ‘Melawat Ke Timur’ dimulai dari Ambon. Sejarah Indonesia
mencatat bahwa tanah ini (Ambon) bukan tanah yang sepi konflik. Di tahun 1999,
dalam tempo yang hampir sama, yakni di hari raya Idul Fitri, konflik juga
terjadi. Bahkan lebih besar daripada yang terjadi di Tolikara. Penyebab
pemantiknyapun sangat sepele, hanya karena pertengkaran dua orang penduduk yang
(kebetulan/atau disetting) beda agama. Isu merebak, pertumpahan darah terjadi,
bahkan meluas sampai ke luar Ambon.
Tapi saat kita ‘Melawat Ke Timur’ sekarang
ini, jika kita bertanya tentang konflik 1999, mereka akan menjawab, “Sampai
sekarang beta seng tahu kenapa bisa terpecah seperti itu,” kata Ellyza Kissya
(Eli), salah satu Kewang / lembaga adat khusus ekonomi, SDA dan sekaligus polisi
adat. (hal. 16) Belakangan memang konflik berbau SARA semacam ini diyakini oleh
masyarakat setempat maupun masyarakat Indonesia secara luas sebagai konflik
yang disengaja untuk disulut. Walaupun memang belum ada petunjuk terang tentang
motif atau pihak yang dengan sengaja mendalangi. Hal ini antara lain diyakini
karena memang menurut Eli, konflik yang terjadi selama ini tidak pernah
disebabkan oleh agama. Dan adat juga masih dipegang erat oleh orang Maluku,
jadi masalah agama tidak pernah menjadi suatu ekstrim tertentu.
“Jadi, adat menjadi
dasar bagi orang Maluku untuk menjalani kehidupannya. Katong sangat hormat pada
adat. Orang maluku itu karakter dan adatnya tidak pernah soal agama,” begitu
kata Eli (hal.26).
Salah satu yang mencolok dalam kehidupan adat masyarakat
Maluku (Ambon dan sekitarnya) adalah persinggungannya dengan agama – agama yang
hadir ke daerah itu. Jika di Sumatra (khususnya Padang, Sumatra Barat) kita
mengenal semboyan “Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah (Adat
berdasarkan Syari’at, Syari’at berdasarkan Kitabullah)”, maka di daerah Maluku
kita akan mengenal semboyan,”agam ni bavilum adat (agama berlandaskan adat)”.
Maka akulturasi agama menjadi hal mutlak dalam kehidupan masyarakat Maluku.
Salah satu adat tua yang bisa menghindarkan masyarakat Maluku dari konflik SARA
adalah konsep pela. Konsep ini pertama kali dilakukan oleh Kapiten Patimura dan
Said Parintah yang mewakili antara dua daerah yakni Haria dan Siri Soli Islam,
pada tahun 1817 (hal. 27). Pela adalah perjanjian persaudaraan antara dua
wilayah atau lebih. Caranya yakni dengan mempertemukan kedua perwakilan daerah,
lalu meminum air yang telah dicampur oleh darah masing – masing
perwakilan/pemimpin tersebut. Dan otomatis daerah tersebut menjadi mitra yang
bukan hanya tidak saling serang, tapi juga saling membantu jika ada yang
menyerang dari luar.
Satu Tungku Tiga Batu
Lain di Ambon, lain pula di Papua.
Khususnya di wilayah Papua Barat ( Fakfak, Sorong hingga Kaimana). Di daerah
ini kita akan berkenalan dengan konsep ‘Satu tungku tiga batu’. Konsep ini
adalah dari kehidupoan masyarakat Papua yang menganut tiga agama besar yakni
Protestan, Kristen dan Islam.
Prinsip ini digambarkan sebagaimana kita saat
sedang memasak dengan tungku. Bahwa tungku akan tetap bisa menyala dengan tiga
penyangga (batu), jika salah satunya hilang maka kuali akan oleng. Isi kuali
akan tumpah dan api ditungku akan mati karena tersiram air di kuali yang
tumpah, akhirnya masakan akan gagal dimasak dan tidak matang. Begitupun dengan
kehidupan masyarakat Papua.
Selain itu prinsip ‘Satu tungku tiga batu’ ini juga
merupakan penjabaran dari idu – idu. Dalam kehidupan masyarakat Papua idu –idu
berarti ‘baku sayang’ atau saling menyayangi. Prinsip ini sudah diwariskan jauh
dari nenek moyang masyarakat setempat (hal. 138). Maka saat masyarakat sudah
hidup saling menyayangi, apapun agama yang mereka anut tidak akan menjadi
penyebab konflik diantara sesama. Maka secara otomatis toleransi akan terbangun
dan senantiasa terjaga.
Kisah Lain Dalam Melawat Ke Timur
Selain memaparkan kehidupan adat dan keberagamaan masyarakat, Melawat Ke Timur juga menyajikan
banyak kisah menarik. Seperti kisah semenanjung 4 kerajaan tertua di Indonesia yakni Ternate, Tidore, Jailolo
dan Bacan yang dulu kekuasaannya hampir seluas wilayah Eropa. Juga situs
sejarah seperti masjid Wapaue yang sudah ada sejak 1414, yang hanya kalah tua
dengan Masjid Ampel, Surabaya (1421) dan Masjid Saka Tunggal, Banyumas (1288).
Selain itu kita juga akan dikenalkan dengan masjid Patimburak (1870), yang
merupakan masjid tertua di Papua. Selain itu kita juga akan diperkenalkan
dengan tradisi unik selama Ramadhan, misalnya Shalat Tarawih dengan menggunakan
empat muadzin yang dilakukan di (masjid) Sigi Lamo di Ternate, juga di Fakfak,
Papua. Atau kita juga akan di suguhi dengan kenikmatan berbuka dengan air
guraka khas Ternate. Atau mungkin kita tertarik untuk mencicipi Kebijaksanaan
dalam secangkir Kopi Islam dan Kopi Kristen di tanah Maluku.
Selain itu, tentu masih
banyak kisah – kisah lain dalam perjalanan “Melawat Ke Timur: Menyusuri
Semenanjung Raja – Raja’ ini. Melawat Ke Timur memberikan gambaran bahwa adat
bagaimanapun menjadi penengah konflik di tengah masyarakat yang bisa meledak
sewaktu – waktu oleh sentimen agama. Maka di tanah kita berpijak sekarang ini,
yakni Banten, utamanya di Cilegon, jangan – jangan konflik agama yang sering
muncul itu adalah tanda bahwa kita tidak lagi memegang adat sebagaimana
mestinya? “ Sun simpen ing kandaga, awor lan kitabku sufi, lamon arsa ing
benjang den ungkaban.” Kelak jika orang di masa depan punya kehendak, bukalah
kembali awor dan kitab sufi yang kami simpan dalam kandaga (pupuh 66 Sejarah
Banten).
Penulis: Imam B. Carito
Judul Buku: Melawat Ke
Timur: Menyusuri Semenanjung Raja – Raja
Penulis Buku: Kardono
Setyorakhmadi
Penerbit: Buku Mojok
Tahun Terbit:
2015
Tebal: xxiv +184

