SIMPOSIUM elBandits

Semacam mars
yang dinyanyikan bersama;
"Hallo..hallo banten
ibu kotanya di serang
Hallo..hallo banten
Kota kenang dikenang
Sudah lama saya tidak berjumpa dengan muuh
sekarang sudah menjadi lautan api
mari kang kabar kembali.."

Gaduh makin terasa
"pidato sukuran el banditos tidak ilmiah dan dibuat-buat!"
"mana bisa ia berkata seenaknya"
"kita-kita ini berniat tulus tanpa efek samping"
"siapa yang membawanya dulu ke kota ini,
 siapa yang mengenalkannya pada setiap orang"
"kita-kita ini sudah berbuat banyak,
sudah berjuang untuk kemaslahatan umat"
"berpuluh tahun kita telah mengabdikan diri
pada masyarakat banyak"
"mendengar isi pidatonya, kita-kita ini
sepertinya hanya sekedar numpang dalam jagat sosial!"
"kita-kita ini orang cerdas"
"gak bisa...gak bisa...gak bisa itu"

Dalam simposium yang penuh sesak
kusaksikan wajah berapi dendam,
kesumat yang dilontarkan lewat
umpatan daftar pustaka

Orang-orang berbusa ancaman
seorang lain, mengacungkan pistol
yang lain golok, lainnya palu, celurit
bahkan rudal santet!
siap melesat dari mulut mantra

Seisi ruang, mencekam
geram berkobar di dada, mendidih
di kepala. Suasana mirip rapat DPR,
mirip sidang sianida, mirip debat papua
di sidang perserikatan bangsa bangsa,
mirip debat iblis dan malaikat di kepala.

Di tengah gegap-gempita perayaan amarah
Sang pendobrak menyajikan presentasinya:
"sodara-sodara, ambisi, nafsu, marah, emosi meledak-ledak ini,
seyogyanya kita pelihara. Betul sekali si el banditos tak tahu diri,
makin gak jelas dan makin ngawur!
Tapi itulah pedang lidahnya yang tajam dan mencincang hati kita,
mesti ditiru, mesti direalisasikan juga dalam strategi kita-kita.
Misalnya kita bikin pendopo yang megah dan serba guna,
kita bikin pengajian-pengajian wacana tapi jangan lupa selipkan visi politik kita.
Kita bikin program desa bangkit, kita cari beasiswa untuk anak-anak sekolah,
kita tempatkan mahasiswa dan seniman-tukang yang bisa kita bayar
murah perbulannya, yang penting mereka bisa mengurus dan pandai ngajak masa.
Kita-kita pun mesti belajar akting satu kali dua puluh empat jam,
supaya bisa jaga emosi, tetap berstrategi".

"Tahu apa kamu, kamu bukan orang sini,
jangan sok tahu kamu, jangan ikut campur
dalam persoalan kota kami, kami yang lahir disini,
kami keturunan langsung trah leluhur,
kami bisa urus sendiri nasib kami"
Begitu seorang muda yang gelar trahnya dipasang
di depan namanya nunjuk tepat ke muka si pendobrak.

Seorang penyuluh makalah dari kubu pendukung
politik cerdas menyajikan kiat-kiat menangkis serangan.
"tepat sekali..emosi itu penting, sepenting nafas dan perut lapar,
 sepenting ejakulasi, sepenting perang dan koloni,
sepenting harapan di dunia ketiga,
sepenting yang tak penting diposisikan penting,
sepenting kepentingan!.
Bagaimana mungkin manusia tanpa emosi,
hanya malaikat yang konon tak memiliki emosi,
jadi mari syukuri, bahwa emosi baik adanya,
alhamdu...lillah"

Gunung emosi menciut jadi sebutir debu
perlahan disapu angin mukodimah. Sang pendukung
politik cerdas melanjutkannya.

"Sodarah sepenanggungan dan seperjalanan,
kerja pembangunan perlu kita siasati dengan keilmuan,
sains, agama dan budaya.
Hal itu bisa kita lakukan di dua kemungkinan.
Kemungkinan tangibel dan kemungkinan intangibel.

Kemungkinan tangibel itu; bangunlah jalan yang bagus,
rumah sakit bagus, mesjid bagus, sekolah bagus,
perpustakaan bagus, pasar tradisional bagus,
lahan garapan bagus, kapal nelayan bagus,
pokoknya semua yang berbau fisik harus bagus.
Percis strategi pembangunan sebuah kota
yang terkenal dengan rumput sintetisnya.
Otomatislah kita-kita akan terangkat namanya,
sebab kita akan menerapkan:
hashtag terimakasih underscore nama kita
(#terimakasih_kangbandits).

Insyalloh, projek negara dan investor akan datang
berduyun-duyun, ngantri untuk usaha di kota kita,
lalu berilah tema kota "satu gerbang sejuta peluang".
Kita mainkan keuntungannya.

Kemungkinan intangibel adalah pengurusan pada yang fisik itu,
kemungkinan yang kita tidak bisa mengerjakannya sendiri,
seperti biasa projek ini akan kita berikan pada ilmuan,
seniman, budayawan yang sukanya debat.
List nama-nama, list kelompoknya, perkumpulannya,
biarkan mereka sibuk beradu argumen,
biarkan mereka serius menggalakkan acara-acara saling serang.
Dengan cara seperti ini situasi kota akan ramai.
Ilmuan, seniman, budayawan akan semakin kritis pada keadaan.

Nah, ini menguntungkan isu kota, menguntungkan pariwisata,
disbudpar dan dis-dis yang lain akan senang dengan cara
kerja macam begini, sebab tak usah buat program
yang banyak mengeluarkan pemikiran dan biaya,
kelola saja dengan label acara festival, ramailah kota kita.
Insyalloh, kita akan banyak mendapat piala dari berbagai
kategori penghargaan negara ataupun swasta.
Ini penting untuk citra kota di mata kota lain dan
camkan baik-baik, sertifikat penghargaan
akan gampang nyairin anggaran!

Mengenai persoalan kemiskinan ekonomi
dan miskin berpikir, mari kita olah bersama,
bukankah kita sudah punya lembaga riset serta
lembaga penggerak yang sudah berjalan di tingkat bawah
insyallah mereka akan membantu-wujudkan
kota yang cerdas dan berdaya juang.

Semua mengangguk pelan
Simposium yang maklum
Mejelaskan diri, memperjelas pribadi
adu abab, adu adab

"kok, makin lemah dan dangkal siih"
Begitu suara sound berkumandang.

Mereka mencari
"itu suara El Banditos!"
"monyet, monyet, monyeeeet!"

2016
NB: El Banditos: untuk menyebut satu tokoh dan elBandits: perkumpulan para bandits | Peri Sandi Huizche


Foto: https://c1.staticflickr.com





Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama