JALAN SEORANG PENYAIR
: Untuk Muhammad Rois Rinaldi
Mulailah ia menulis cerita, risalah, kidung, atau pangkur
Yang merekam gusarnya air laut atau amuk angin
Dari hatinya yang selalu melihat bencana
Getir di dadanya
luka yang tak kunjung reda
Sepasang sayap malaikat menerbangkan kata-kata
Mengentaskan manusia dari penjara-penjara:
Agenda kerja, atau yang mendekam dalam dada wanita
Namun ia sendiri selalu memenjarakan diri
Seolah tak ada ruang lain di dunia
Kecuali cerita tentang kesalahkaprahan hidup
Begitulah takdrimu, juga takdir yang aku pilih:
Penadah dari setiap lara
Kata-kata telah menjadi darah
hidup dan mengalir dalam
setiap kenangan dan dendam kebenaran
Pabean, 2016
MAUT
Aku telah banyak menyaksikan kematian
mayat-mayat yang membujur
Tulang-tulang yang rapuh
Darah yang beku
aku telah banyak membaca kisah-kisah pembantaian
sejarah dan luka
setiap babak baru adalah meregangnya nyawa
seperti Karbala
aku menyaksikan diriku depan cermin
wajah yang lusuh
kering dan kusi
disana, kematian selalu sembunyi
membayang
mengancam
ah,
kematian begitu kuasa
di dada manusia
melebihi Tuhannya.
Karangtengah, 2016
RINDU
Juni Ini
betapa langit menjadi arif
ia melepas rindu hujan dari belenggu waktu
dan musim
daun menjadi langgas mencumbu air
kapanpun dimanapun
apa kabar dengan kita?
aku tak pandai melukis peristiwa
tapi, diantara mata kita selalu ada jeda
yang mengancam
aku menarik diri,
cinta telah membuatmu menjadi luka
dan, tak pernah ada luka yang bisa disempurnakan
lantas, bagaimana dengan aku?
penanggung luka tanpa penyembuh
berjalan sendiri menciptakan segenap kepalsuan
sepagi ini, aku menyeduh teh
tidak ada dua sendok gula seperti biasa
tak perlu ada yang dilarutkan
juga rindu ini
biar ia bosan dengan pahitnya sendiri
Pabean, 2016
*penulis adalah pecinta segala jenis buku. Bergiat di komunitas Bunga Padi, Presiden Rumah Baca Damar26. Mengajar di MTs dan MA Al-Khairiyah Karangtengah, Cilegon.
: Untuk Muhammad Rois Rinaldi
Mulailah ia menulis cerita, risalah, kidung, atau pangkur
Yang merekam gusarnya air laut atau amuk angin
Dari hatinya yang selalu melihat bencana
Getir di dadanya
luka yang tak kunjung reda
Sepasang sayap malaikat menerbangkan kata-kata
Mengentaskan manusia dari penjara-penjara:
Agenda kerja, atau yang mendekam dalam dada wanita
Namun ia sendiri selalu memenjarakan diri
Seolah tak ada ruang lain di dunia
Kecuali cerita tentang kesalahkaprahan hidup
Begitulah takdrimu, juga takdir yang aku pilih:
Penadah dari setiap lara
Kata-kata telah menjadi darah
hidup dan mengalir dalam
setiap kenangan dan dendam kebenaran
Pabean, 2016
MAUT
Aku telah banyak menyaksikan kematian
mayat-mayat yang membujur
Tulang-tulang yang rapuh
Darah yang beku
aku telah banyak membaca kisah-kisah pembantaian
sejarah dan luka
setiap babak baru adalah meregangnya nyawa
seperti Karbala
aku menyaksikan diriku depan cermin
wajah yang lusuh
kering dan kusi
disana, kematian selalu sembunyi
membayang
mengancam
ah,
kematian begitu kuasa
di dada manusia
melebihi Tuhannya.
Karangtengah, 2016
RINDU
Juni Ini
betapa langit menjadi arif
ia melepas rindu hujan dari belenggu waktu
dan musim
daun menjadi langgas mencumbu air
kapanpun dimanapun
apa kabar dengan kita?
aku tak pandai melukis peristiwa
tapi, diantara mata kita selalu ada jeda
yang mengancam
aku menarik diri,
cinta telah membuatmu menjadi luka
dan, tak pernah ada luka yang bisa disempurnakan
lantas, bagaimana dengan aku?
penanggung luka tanpa penyembuh
berjalan sendiri menciptakan segenap kepalsuan
sepagi ini, aku menyeduh teh
tidak ada dua sendok gula seperti biasa
tak perlu ada yang dilarutkan
juga rindu ini
biar ia bosan dengan pahitnya sendiri
Pabean, 2016
![]() |
| ilustrasi: The Silent Thoughts Large Blue | saatchiart.com |
*penulis adalah pecinta segala jenis buku. Bergiat di komunitas Bunga Padi, Presiden Rumah Baca Damar26. Mengajar di MTs dan MA Al-Khairiyah Karangtengah, Cilegon.


