Keluarga kami berlangganan koran-koran lokal dan
nasional. Tentu atas dasar persetujuanku, dan memang aku merasa perlu
melakukannya. Terlebih aku salah satu anggota dewan di DPRD Cilegon. Walau
media akhir-akhir ini kurang proporsional dan berimbang dalam memberitakan
suatu hal, namun setidaknya aku bisa tahu isu terhangat apa saja yang sedang terjadi.
Sejak pelantikan Oktober lalu, kuakui aku memang
jarang berada di rumah. Hari-hariku lebih sering dihabiskan di kantor atau luar
kota. Dan bila begitu tentu sudah pasti aku akan jarang pulang dan menyita
waktu berkumpulku bersama keluarga. Bahkan di satu kesempatan aku pernah tak
pulang selama hampir satu bulan penuh.
“Mama besok bagi rapor. Andi mau Mama temenin ke
sekolah,” rengek anak bungsuku di satu kesempatan.
Aku berusaha menolaknya sehalus mungkin, “dengan Papa
saja, ya. Kan, sama saja orang tua Andi juga.” Lepas itu aku tak mendengar ia
menjawab selain rengekannya yang terdengar manja. Ia sama seperti anak usia
sepuluh tahun lainnya. Aku tahu, ia masih sangat membutuhkan kasih sayang
seorang ibu.
“Mama baik-baik di sana, ya,” terdengar suara
lembut Mas Fernanda, suamiku. Suaranya sungguh ngangenin. Tetapi apalah dayaku, masih banyak pekerjaan yang harus
segera diselesaikan.
“Kabar-kabari, ya, kalau terjadi hal apa pun. Mama
ingin selalu tahu keadaan kalian. Love
you.”
Ia membalas, “love
you, too.” Lalu pamit setelah terdengar jeritan Andi yang kian kencang.
Sepertinya ia berhasil kabur dari pengawasan Bi Inah.
Aku kembali dengan pekerjaanku dan menyelesaikan
segala urusan dengan client. Terlebih
ini adalah proyek besar, jangan sampai aku gagal bekerjasama dengannya.
***
Malam tadi aku baru sampai rumah. Bi Inah
membukakan pintu.
“Bapak sudah tidur,” ucapnya sedikit berbisik. Ia
menunjuk ke arah ruang keluarga. Sepatu sudah aku letakkan di rak sebelah pintu
masuk. Gegas aku mendekat. Pria ini sungguh sangat tangguh. Aku duduk di sofa
yang ia jadikan sebagai pengganti spring
bed.
“Maaf kalau aku terlalu sibuk, Pa.” Kukecup
keningnya hingga basah. Tubuhnya meringkuk tanpa selimut. Sedang televisi dan
AC masih menyala. Tentu ia sudah menunggu kedatanganku sejak empat jam lalu.
Sekarang sudah pukul 02.00 pagi.
Ah,
sungguhlah ia suami idaman.
Aku tak bermaksud untuk membangunkannya, tetapi,
saat aku hendak beranjak ke kamar, ia terjaga.
“Mama sudah datang? Sejak kapan?” Jemari tangannya
menggosok-gosok mata. Sesaat menguap. “Maaf, Ma. Papa ketiduran.”
Mendengar ucapannya, seketika saja aku berpikir
bahwa kesibukanku ini sungguhlah sia-sia belaka. Apa gunanya, coba? Pekerjaan
dan jabatan tinggi tetapi keromantisan dengan keluarga terkikis bahkan lenyap
begitu saja?
“Barusan, kok, Pa. Nggak apa-apa, tadi ada Bi Inah
yang membukakan pintu.” Ia lekas mengatur posisi duduknya hingga tegap, lalu
berdiri menghampiriku.
“Love you,
Ma.” Kedua tangannya mendekapku mesra. Udara dingin dalam ruangan dan sisa-sisa
angin malam yang melekat sesaat luruh dari tubuhku. Kehangatannya tiada
tertandingi; bahkan menembus hingga hulu hati.
“Mama juga sayang Papa.”
Sesaat kami saling diam, ia melepas pelukannya.
Inilah alasanku menerima cintanya dulu. Meskipun ia tidak memiliki pekerjaan
tetap, tetapi ia memiliki kasih sayang yang tulus dan tidak terkira.
“Andi sudah tidur, ya?” ia mengangguk, aku melanjutkan,
“Kezya belum pulang, Pa? Ia belum mengabari Mama lagi.” Kami bercuap-cuap
sambil menuju kamar tidur.
“Dia bilang mau pulang kemarin, tapi nyatanya
nggak jadi. Pas Papa tanya lagi dia bilang sebentar lagi pulang nunggu libur. Biar
kejutan jadi tidak akan mengabari lagi.” Aku paham, itu sebabnya ia jarang
memberiku kabar lagi. Tak terasa, anak pertamaku itu sudah beranjak dewasa.
Duapuluh tahun sudah, dan sejak tiga bulan lalu ia berangkat ke Australia.
Melanjutkan kuliahnya di salah satu kampus di Melbourne bersama dua temannya.
“Ini aku bawakan mainan terbaru untuk Andi. Semoga
dia suka, ya, Pa.” Suamiku menerimanya dan menaruh di samping lemari pakaian.
Aku tak bermaksud menyogok anakku
dengan mainan yang harganya lumayan ini. Tentu waktu bermain dengannyalah yang
jauh lebih berharga.
***
“Ma, Papa lupa ngasih tahu kalau hari ini Andi
akan ikut liburan dengan teman-teman sekolahnya,” ucapnya sambil mengelus-elus
punggungku—ia memang tahu cara membangunkan istrinya. Aku pun cukup kaget, di
saat aku punya waktu berkumpul dengan keluarga, kenapa mereka sekarang yang
pergi? Sepertinya kehidupan tak adil bagiku.
“Papa ikut juga?”
Ia hanya mengulum bibirnya disertai anggukan.
Lantas kembali tersenyum.
“Ayolah, Pa. Dibatalin saja. Kita bisa berangkat
bareng sekeluarga, bila perlu ajak Bi Inah dan tetangga kita. Tentukan saja
waktunya.” Aku protes. Kantukku begitu saja hilang, padahal kutengok jam di
sebelah dinding kiri masih pukul 06.10.
“Ide dan ajakan Mama itu satu hal, tetapi liburan
Andi dengan teman-temannya itu hal lainnya, Ma. Mama juga harus ngerti, Andi sangat menantikan liburan
ini sebelum ulangan dan bagi rapor, bahkan.” Sepagi ini, dadaku sudah terasa sesak
dan panas. Tetapi tentu aku harus bisa menahan emosiku. Aku tak ingin ini
menjadi buruk. Pasti ada jalan tengahnya. Sayangnya, suamiku melanjutkan,
“dan...,”
“Dan? Dan apa, Pa?”
Ia menggigit bagian bawa bibirnya. Air mukanya
tampak ragu-ragu. Aku mengulangi pertanyaan hingga akhirnya ia kembali membuka
mulutnya.
“Bi Inah juga ikut, Ma.”
“Pa—” mataku membulat, ya aku bisa melihatnya dari
cermin lemari yang ada di belakang suamiku.
“Dengar dulu, Ma.” Ia gegas memotong. “Tenanglah,
ini cuma dua hari saja, kok. Sungguh Papa minta maaf karena lupa mengabari Mama
sebelumnya.” Aku tak bisa melihat pemandangan dan keadaan seperti ini. Bukan
karena aku hendak bergabung dengan mereka—dan kalaupun aku mau, pasti bisa—hanya
saja, aku ingin di saat libur begini, aku ingin kita berkumpul semua. Lagi pula
aku masih butuh istirahat. Dan seharusnya inilah waktu yang tepat.
Seketika saja wajah suamiku lesu dan penuh
penyesalan. Astaga, apa yang aku lakukan? Bila mereka senang dengan apa yang
dilakukan, bukankah itu baik? Sebagai istri seharusnya aku mendukungnya.
“Baiklah, Pa.” Aku mengembuskan napas berat.
Sepertinya tak ada jalan tengah. Untuk membuat pasanganmu bahagia sepertinya
mudah saja, turuti saja apa maunya dan kau cukup mengatakan, “ya,” atau
sejenisnya. Seperti saat ini, senyum suamiku kembali berkembang dan ia
memberikan pelukannya seerat yang ia bisa.
***
Kurang lebih dua jam setelahnya, mereka sudah
bersiap. Usai sarapan kami berbincang mengisi kekosongan.
“Sudah Andi di rumah saja, kita bisa main mainan
baru, lho. Itu pesawat remote control
keluaran terbaru. Andi juga bisa foto, lho. Namanya Drone. Nanti Mama ajari.
Biarpun perempuan, Mama bisa, lho.”
Bocah kecil berpipi chubby di hadapanku tetap diam. Ia malah terus mengisi udara di
pipinya, hingga tampak semakin menggembung serupa balon.
“Beneran, nggak, mau?”
“Andi marah sama Mama.”
Bagiku jawabannya sangat wajar. Dengan
kepolosannya ini aku bisa tahu apa saja yang harus aku perbaiki demi untuknya.
“Mama minta maaf, boleh? Andi mau maafin, nggak?”
Ia hanya melirikku. Matanya yang sipit serupa papanya
terlihat begitu tajam. “Lagipula Andi mau terbang dengan pesawat betulan, sama
Pak Pilot sungguhan,” jawabnya ketus tak menghiraukan permohonan maafku.
“Mama nggak mau Andi ajak. Soalnya Mama nggak
balas surat Andi dan Mama kalau pergi-pergi juga nggak ajak Andi. Andi pengen
jadi pilot biar bisa keliling dunia. Terus kirim surat sendiri!” Tepat di kata
terakhir ia meninggikan nada suaranya. Aku tersenyum sekaligus tersayat.
Ucapannya berhasil menohokku. Sesaat aku bergeming, ketika baru menangkap
kalimat terakhirnya. Aku rasa ia melantur dan benar-benar kesal. Orang marah biasanya
apa pun akan diucapkan tanpa tahu apa maksudnya. Atau mungkin ia benar-benar
mengatakan itu karena semenjak kakaknya ke Australia, ia lebih senang menulis
surat dan mengirimkannya—begitu yang pernah Mas Fernanda ceritakan. Tentu
caranya ia ketahui dari gurunya sebagai praktek dari pelajaran Bahasa
Indonesia. Bila tak dibalas Kezya, ia akan mengamuk dan marah-marah di telepon
ketika Mas Fernanda menghubunginya.
“Andi, itu ada Ragil di depan.” Sekelebat suara Mas
Fernanda terdengar tanpa tahu ada percakapan sengit antara Mama dan anaknya di
meja makan. Ketika aku menoleh lagi ke kursi tempat Andi duduk, ternyata ia
sudah melepaskan kedua tanganku yang mendekap bahunya dan melompat, lalu berlari
menuju pintu depan.
Aku memilih berjalan menuju dapur ketimbang harus
menemui keluarga Ragil. Bukan, bukan karena aku ada masalah dengannya, hanya
saja aku memang belum sekalipun berjumpa dan rasanya ada ketidak-pedean dalam diri ini.
“Maaa!” Ia berlari menghampiriku. Aku melihat ia
berusaha menarik tangan Andi, mungkin agar turut berpamitan, sayangnya ia
gagal. “Kita berangkat, ya. Biar kita ikut saja dengan mobil keluarga Ragil,
tak enak menolak tawarannya kemarin.” Aku tahu, sopir pribadi kami memang belum
pulang dari kampung halaman, menyelesaikan urusannya.
“Ya, Pa. Hati-hati, ya,” kataku lesu.
“Aku sayang, Mama.” Ia mengecup kedua belah
pipiku. “Mama jangan sedih gitu, dong. Nanti Papa kepikiran terus dan liburan
kita malah nggak menyenangkan.” Aku berusaha memasang senyum terbaikku
untuknya. Ia pun memintakan pamit untuk Bi Inah dan Andi tentu saja.
Rumah sepi, hanya ada aku sendiri sekarang. Kalau
tahu begini, aku kembali berpikir untuk bekerja saja di kantor, sekalipun di
hari Minggu. Sepertinya hari ini memang hari bermalas-malasan. Aku menuju ruang
keluarga. Menyalakan televisi dan duduk di sofa.
Dua jam berselang. Tak ada acara yang
mengasyikkan. Semuanya hampir berita-berita sampah.
Bel rumah berbunyi, aku menghampiri.
“Surat, Bu.” Dua kata itu saja yang kudengar dari seorang
kurir yang sudah berdiri di depan pintu. Ia memintaku membubuhi tandatangan di
kertas tanda terima. Lantas segera pamit pergi. Dalam benakku aku berpikir;
paling surat tagihan mobil. Sejujurnya, kami memang membeli mobil kreditan. Dan
ini sungguhlah wajar terjadi di kalangan pekerja pemerintahan yang biasanya
baru menjabat.
Namun, ketika aku lihat ternyata dugaanku meleset.
Pengirimnya tertera, Andi Fernanda?
dengan memakai alamat sekolahnya dan ia tujukan untukku. Tertera Angelica,
namaku. Dan ditulis alamat rumah kami sendiri? Untuk apa?
Lantas aku membukanya. Tulisan tangannya cukup
baik, mungkin karena sudah terbiasa. Bunyinya:
Ma,
kemarin teman-teman di sekolah ngatain Andi.
Katanya Mama Andi udah nggak ada, makanya Andi ambil rapor sama Papa doang,
begitu. Andi kesel, Ma. Andi udah bilang kalau Mama lagi kerja, tapi mereka
nggak ngeladenin. Terus Papa datang
bawa rapor Andi. Papa liat muka Andi, terus nanya kenapa, Andi diam aja. Soalnya
Papa pernah bilang, kalau jadi laki-laki harus kuat. Andi mau Papa liat Andi
kuat. Andi ‘kan mau jadi pilot, kata papa juga pilot itu harus kuat. Nanti Andi
bakal antar papa dan mama pergi-pergi. Biar Andi selalu bisa dakat terus sama
papa dan mama.
Andi
sayang, Mama. Mama bales, ya.
Seketika goresan pensil di kertas itu perlahan
pudar dijatuhi airmataku. Kedua tanganku lemas menggenggam surat itu. Gegas saja
aku menuju ruang keluarga untuk merebahkan tubuhku di sofa dan ingin menghubungi
Andi kalau aku sangat menyayanginya pula. Namun sayang kesedihanku ini tak
berakhir sampai di situ.
Televisi masih menyala dan jeda breaking news. Pembaca berita
mengatakan, “Baru saja terjadi kecelakaan pesawat tujuan Jakarta-Singapore. Karena
cuaca yang kurang menentu, pesawat hilang kendali dan jatuh ke tengah laut. Belum
diketahui pasti berapa jumlah korban, yang jelas ada satu rombongan Sekolah Dasar
Budi Oetama yang menjadi penumpangnya....”
Aku tak fokus lagi mendengarkan lanjutannya.
Kepalaku terasa kunang-kunang. Wajah lucu Andi dan suamiku berkelebatan
silih-berganti. Aku berusaha untuk menelepon dan memastikan keselamatan mereka.
Celakanya, nomor telepon mereka tak ada yang bisa dihubungi.[]
Cilegon, 16 Desember 2015
![]() | |
|
Tentang Penulis
Ade Ubaidil, pencerita yang tinggal dan besar di Cilegon. Terlahir tanggal 02 April 1993. Mahasiswa aktif di Universitas Serang Raya (UNSERA). Buku-bukunya
yang sudah terbit, kumpulan cerpen, “Air Mata Sang Garuda” (AG Litera, 2013),
Novel “Kafe Serabi” (Divapress, 2015), kumpulan cerpen, “Mbah Sjukur” (2016).
Dua tahun terakhir sibuk dengan kegiatannya mengurus perpustakaan yang
didirikannya bernama, “Rumah Baca Garuda” bertempat di Cibeber, Cilegon.


